Minggu, 06 Maret 2011

Makalah Hari Kebangkitan Manusia

HARI KIAMAT, HARI KEBANGKITAN MANUSIA

A. Tahapan Perjalanan Manusia Menuju Hari Kebangkitan di Akhirat

1. Alam Barzakh (kubur)
Sebelum terjadinya kiamat qubro, terjadi dulu kiamat sugro yang berupa kematian manusia. Setelah manusia meninggal dunia, mereka menunggu di alam barzah (kubur) sampai terjadinya kiamat qubro. Para salaf bersepakat tentang kebenaran adzab dan nikmat yang ada di alam kubur (barzakh) . Nikmat tersebut merupakan nikmat yang hakiki, begitu pula adzabnya, bukan sekedar bayangan atau perasaan sebagaimana diklaim oleh kebanyakan ahli bid’ah. Pertanyaan (fitnah) kubur itu berlaku terhadap ruh dan jasad manusia baik orang mukmin maupun kafir. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan Rasulullah SAW selalu berlindung kepada Allah SWT dari siksa kubur. Rasulullah SAW menyebutkan sebagian dari pelaku maksiat yang akan mendapatkan adzab kubur, diantaranya adalah mereka yang sbb :
a.       Suka mengadu domba
b.      Suka berbuat ghulul
c.       Berbuat kebohongan
d.      Membaca Al Qur’an tetapi tidak melaksanakan apa yang diperintahkan dan yang dilarang dalam Al’Qur’an
e.       Melakukan zina
f.        Memakan riba
g.       Belum membayar hutang setelah mati (orang yang berhutang akan tertahan tidak masuk surga karena hutangnya).
h.       Tidak bersuci setelah buang air kecil, shg masih bernajis

Adapun yang dapat menyelamatkan seseorang dari siksa kubur adalah Shalat wajib, shaum, zakat, dan perbuatan baik berupa kejujuran, menyambung silaturahim, segala perbuatan yang ma’ruf dan berbuat baik kepada manusia , juga berlindung kepada Allah SWT dari adzab kubur.

2. Hari Akhir
Syi’ah meyakini bahwa dunia ini adalah jembatan yang harus dilewati oleh manusia untuk sampai ke tempatnya yang abadi. Atau dengan kata lain, dunia adalah sekolah, pasar, atau ladang bagi hari akhir. Iniam ‘Ali as berkata tentang dunia:
Sesungguhnya dunia adalah kampung kebenaran bagi yang benar dalamnya...,   kampung kekayaan bagi yang membekali dirinya, kampung belajar bagi yang mengambil pelajaran, masjid kekasih Allah, mushalla para malaikat Allah, tempat turunnya wahyu, dan tempat berniaganya kekasih-kekasih Allah. (Nahjul-balaghah, mutiara-mutiara pendek no. 131)

v                 Bukti-bukti Hari Akhir Nyata

Syi’ah meyakini bahwa bukti-bukti tentang hari akhir sangat jelas. Itu karena:
Pertama,kehidupan dunia tidak mungkin merupakan tujuan akhir penciptaan manusia, karena apalah artinya kehidupan jika hariya datang untuk beberapa saat, bahkan harus menghadapi berbagai macam persoalan yang menghadangnya, kemudian mati dan berakhirlah segala sesuatu? Tidak mungkin.
”Apakah kamu mengira bahwa Kami ciptakan kamu sia-sia dan kamu tidak kembali kepada Kami?” (QS. 23:115)
Pada ayat ini ada isyarat bahwa kehidupan dunia akan menjadi sia-sia jika tanpa hari akhir.
Kedua,keadilan Ilahi menuntut pemisahari orang-orang saleh dari orang-orang bejat, supaya masing-masing mendapat ganjaran yang setinipal.
”Apakah orang-orang yang berbuat maksiat mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang berinian dan berbuat baik, sama antara hidup dan mati mereka? Sungguh buruk kesinipulan mereka.” (QS. 45:21)
Ketiga, Kasih sayang Allah Swt yang luas menuntut tidak terputusnya kucuran anugrah-Nya dan kontinuitas proses kesempumaan manusia, al-takamul al-basyari, bagi orang-orang yang siap dan pantas mendapatkannya.
”Dan telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak dapat diragukan lagi kedatangannya. (QS. 6:12):

Al-Quran berbicara kepada orang-orang yang meragukan hari akhir:
Mereka berkata:
"Apabila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang haricur, apakah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?" Katakan: "Jadilah batu, besi, atau makhluk lain yang kamu anggap tidak mnngkin." Maka mereka akan berkata: "Siapakah yang menghidupkan kami?" Katakan: "Dialah yang telah menciptkan kamu pada kali pertama. (QS. 17:49-51)

v                 Peniupan Sangkakala

Sangkakala adalah terompet yang ditiup oleh malaikat Israfil yang menunggu kapan diperintahkan Allah SWT. Tiupan yang pertama akan mengejutkan manusia dan membinasakan mereka dengan kehendak Allah SWT, seperti dijelaskan pada Al Qur’an:

“Dan ditiuplah sangkakala maka matilah semua yang di langit dan di bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT”( QS. Az Zumar :68 ).

Tiupan ini akan mengguncang seluruh alam dengan guncangan yang keras dan hebat sehingga merusak seluruh susunan alam yang sempurna ini. Ia akan membuat gunung menjadi rata, bintang bertabrakan, matahari akan digulung, lalu hilanglah cahaya seluruh benda-benda di alam semesta. Setelah Itu keadaan alam semesta kembali seperti awal penciptaannya.
Allah SWT menggambarkan kedahsyatan saat kehancuran tersebut sebagaimana firman-Nya : ” Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” (QS.Al Hajj:1-2).

Setelah seluruh alam mengalami hari kiamat, atau seluruh alam di hancurkan  dengan dahsyat oleh Allah SWT, mungkin kehidupan di dunia sudah musnah. Akan tetapi, kehidupan yang selanjutnya akan segera di mulai. Yaitu kehidupan di alam akhirat. Di akhirat ini puncaknya kehidupan, karena di sini semua makhluk hidup akan hidup kekal selama-lamanya. Tetapi tentunya ada pembalasan sesuai apa yang dilakukan  selama hidup di dunia.
Setelah seluruh alam hancur, kemudian ditiupkan sangkakala yang kedua yaitu tiupan untuk membangkitkan seluruh manusia ;
 “Dan tiupan sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.(QS. Yaa Siin : 51).

v                 kebangkitan (al-Ba'ts).

Meyakini adanya kebangkitan dari kematian adalah salah satu keyakinan yang membedakan antara iman dan kufur. Al Qur'an, as Sunnah, dan ijma' umat Islam sangat jelas menunjukkan adanya kebangkitan itu. Bahkan semua pengikut risalah samawiyah (risalah langit) juga mengakuinya. Namun banyak orang yang salah dan tersesat dalam masalah ini, sebagian mereka ada yang mengingkari  proses kejadian dan hari tempat kembali (ma'ad), mereka berkata:
"Tidak ada kematian selain kematian di dunia ini. Dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan." (QS. Al Dukhan: 35)

Allah Ta'ala berfirman, (artinya)
"Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati".(Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui."(QS.Al Nakhl: 38)
Al Qur'an, as Sunnah, dan ijma' umat Islam sangat jelas menunjukkan adanya kebangkitan itu.
Allah Ta'ala berfirman:

"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah." (QS. Al Nisa': 87)

"Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal." (QS. Al Waaqi'ah: 49-50)

Allah berfirman : "Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Fushilat: 39)

Dalam ayat di atas, Allah menjadikan Qudrah-Nya menghidupkan bumi yang sebelumnya mati untuk menunjukkan kemampuan-Nya menghidupkan kembali orang mati dan membangkitkan orang yang berada di dalam kubur.
Allah juga menjadikan Qudrah-Nya memulai penciptaan untuk menunjukkan Qudrah-Nya mengembalikannya dalam bentuk awal, bahkan itu lebih mudah bagi-Nya.
"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?. Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). Kemudian mani itu menjadi segumpal darah. Lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya. Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (QS. Al Qiyamah: 36-40)

v                 Penghimpunan di padang mahsyar (al-Hasyr)

”(Yaitu) pada hari (ketika ) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit dan mereka semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.(QS. Ibrahim:48).


Hasr adalah pengumpulan seluruh mahluk pada hari kiamat untuk dihisap dan diambil keputusannaya. Lamanya di Padang Mahsyar adalah satu hari yang berbanding 50.000 tahun di dunia. Allah berfirman:
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun.(QS. Al Maarij:4).
Karena amat lamanya hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya seperti satu jam saja.
Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari. (QS.Yunus:45).
“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, bahwa mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat saja” (QS. ArRuum:55).
Adapun orang yang beriman merasakan lama pada hari itu seperti waktu antara dhuhur dan ashar saja. Subhanallah.
Keadaan orang kafir saat itu sebagaimana firman-Nya.
”Orang kafir ingin seandainya ia dapat menebus dirinya dari adzab hari itu dengan anak-anaknya, dengan istri serta saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya ketika di dunia, dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya”.(QS.AlMa’arij:11-14).

v                 Syafaat

Syafaat ini khusus hanya untuk umat Muslim, dengan syarat tidak berbuat syirik besar yang menyebabkan kepada kekafiran. Adapun bagi orang musyrik, kafir dan munafik, maka tidak ada syafaat bagi mereka.Syafaat ini diberikan Rasulullah SAW kepada umat Muslim (dengan izin dari Allah SWT).

v                 Hisab

Pada tahap (fase) ini, Allah SWT menunjukkan amal-amal yang mereka perbuat dan ucapan yang mereka lontarkan, serta segala yang terjadi dalam kehidupan dunia baik berupa keimanan, keistiqomahan atau kekafiran.
Setiap manusia berlutut di atas lutut mereka.
“Dan kamu lihat tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya . Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Jatsiah:28).
Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Muhammad SAW, kita umat yang terakhir tapi yang pertama dihisab. Yang pertama kali dihisab dari hak-hak Allah pada seorang hamba adalah Shalatnya, sedang yang pertama kali diadili diantara manusia adalah urusan darah.
Allah SWT mengatakan kepada orang kafir : “Dan kamu tidak melakukan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya”.(QS. Yunus:61). Seluruh anggota badan juga akan menjadi saksi.
Allah bertanya kepada hamba-Nya tentang apa yang telah ia kerjakan di dunia : “Maka demi Rabbmu, kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang akan mereke kerjakan dahulu”.(Al Hijr:92-93).
Seorang hamba akan ditanya tentang hal : umurnya, masa mudanya, hartanya dan amalnya dan akan ditanya tentang nikmat yang ia nikmati.

v                 Pembagian catatan amal

Pada detik-detik terakhir hari perhitungan , setiap hamba akan diberi kitab (amal) nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang telah ia kerjakan di dunia.
Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT.
Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari sebelah kanan. Sedangkan manusia yang jelek amalnya akan menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, seperti pada firman Allah berikut ini:

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak : “celakalah aku”, dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”,(QS. Al Insyiqaq:8-12) .

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:”wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.Telah hilang kekuasaanku dariku” (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala”.(QS. Al Haqqah:25 31).

v                 Mizan
Mizan adalah apa yang Allah letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman : “Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah seorang dirugikan walau sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya.Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”
.(QS. Al Anbiya:47)

Setelah tahapan Mizan ini, bagi yang kafir, dan mereka yang melakukan perbuatan syirik akan masuk neraka.
Sedangkan umat muslim lainnya, akan melalui tahap selanjutnya yaitu Telaga

v                 Telaga

Umat Muhammad SAW akan mendatangi air pada telaga tsb. Barang siapa minum dari telaga tsb maka ia tidak akan haus selamanya. Setiap Nabi mempunyai telaga masing-masing. Telaga Rasulullah SAW lebih besar, lebih agung dan lebih luas dari yang lain, sebagaimana sabdanya :
“Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai telaga dan sesungguhnya mereka berlomba untuk mendapatkan lebih banyak pengikutnya di antara mereka dan sesungguhnya Nabi Muhammad mngharapkan agar menjadikan pengikutnya yang lebih banyak”. (HR. Bukhari Muslim).
Setelah Telaga, umat muslim akan ke tahap selanjutnya yaitu tahap Ujian Keimanan Seseorang. Perlu dicatat bahwa orang kafir dan orang yang berbuat syirik sudah masuk neraka (setelah tahap Mizan, seperti dijelaskan di atas).

v                 Ujian Keimanan Seseorang

Selama di dunia, orang munafik terlihat seperti orang beriman karena mereka menampakkan keislamannya. Pada fase inilah kepalsuan iman mereka akan diketahui, diantaranya cahaya mereka redup. Mereka tidak mampu bersujud sebagaimana sujudnya orang mukmin. Saat digiring, orang-orang munafik ini merengek-rengek agar orang-orang mukmin menunggu dan menuntun jalannya.Karena saat itu benar-benar gelap dan tidak ada petunjuk kecuali cahaya yang ada pada tubuh mereka.
Allah SWT berfirman,”Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman:”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”.Dikatakan (kepada mereka):”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”.Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu.Di sebelah dalamnya ada rahmat da di sebelah luarnya dari situ ada siksa.(QS.Al hadid:13).
Setelah ini umat muslim yang lolos sampai tahap Ujian Keimanan Seseorang ini, akan melalui Shirat.

v                 Shirat
Shirath adalah jmbatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam, untuk diseberangi orang-orang mukmin menuju Jannah (Surga).
Beberapa Hadits tentang Shirath
“Sesungguhnya rasulullah SAW pernah ditanya tentang Shirath, maka beliau berkata: Tempat menggelincirkan, di atasnya ada besi penyambar dan pengait dan tumbuhan berduri yang besar, ia mempunyai duri yang membahayakan seperti yang ada di Najd yang disebut pohon Sud’an”.(HR. Muslim)
“Telah sampai kepadaku bahwasanya shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang”. (HR. Muslim)
“Ada yang melewati shirath laksana kejapan mata dan ada yang seperti kilat, ada yang seperti tiupan angina, ada yang terbang seperti burung dan ada yang menyerupai orang yang mengendarai kuda, ada yang selamat seratus persen, ada yang lecet-lecet dan ada juga yang ditenggelamkan di neraka jahannam”. (HR. Bukhari Muslim)

Yang paling pertama menyebarangi shirath adalah Nabi Muhammad SAW dan para pemimpin umat beliau.Beliau bersabda : “Aku dan umatku yang paling pertama yang diperbolehkan melewati shirath dan ketika itu tidak ada seorangpun yang bicara, kecuali Rasul dan Rasul berdo’a ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.(HRBukhari).
Bagi umat muslim yang berhasil melalui shirath tersebut, akan ke tahap selanjutnya jembatan

v                 Jembatan

Jembatan disini, bukan shirath yang letaknya di atas neraka jahannam. Jembatan ini dibentangkan setelah orang mukmin berhasil melewati shirath yang berada di atas neraka jahannam.
Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu mereka diberhentikan di atas jembatan antara Jannah(surga) dan neraka, mereka akan saling diqhisash antata satu sama lainnya atas kezhaliman mereka di dunia.Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka diizinkan masuk Jannah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, seorang diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di jannah daripada tempat tinggalnya di dunia”.(HR. Bukhari).

Setelah melewati jembatan ini barulah orang mukmin masuk Surga.

v                 Balasan Spritual dan Material
Syi’ah meyakini bahwa pembalasan di hari kiamat mencakup dua sisi, material dan spiritual. Karena kebangkitan mengandung sisi material dan spiritual.
Ada pun yang tertera di dalam al-Quran dan hadis-hadis Nabi tentang sorga, bahwa sungai-sungai mengalir di bawahnya:
Allah telah menyediakan surga untuk mereka yang mengalir sungai-sungai di bawahnya,  mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. 9:89)
Makanan yang tak putus-putus dan keteduhari yang tems menerus.
Perumpamaan sorga yang dtjanjikan kepada orang-orang yang taqwa (ialah surga) yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, makanannya abadi (tak habis-habisnya) begitupun naungannya. Itulah kesudahan orang-orang yang bertaqwa sedang kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.(QS.13:35)



Bidadari-Bidadari (pasangan-pasangan) yang suci bagi orang-orang yang beriman,
Katakanlah, "Apakah kamu ingin aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikilan itu?" Yaitu untuk orang-orang yang bertaqwa pada sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka itu kekal di dalamnya, dan ada pasangan-pasangan yang suci serta keridhaan dari Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. 3:15)

Dan tentang neraka, "Jilatan apinya sangat menyakitkan." Semua itu menunjukkan dimensi material pembalasan di hari akhir. Akan tetapi yang lebih penting dari pada itu semua ialah balasan spiritual, yang tercermin dalam pancaran cahaya ma'rifat Ilahi, kedekatan rohani pada al-Khaliq, dan penampakan keindahari dan keagungan-Nya, tajaliyah al-jamal wa al-jahl, suatu kenikmatan yang tiada tara, yang tidak dapat dilukiskan oleh kata-kata maupun pena.
Di beberapa ayat al-Quran, setelah menyebutkan tentang sejumlah kenikmatan material sorga, al-Quran mengungkapkan bahwa:
Ridha Allah lebih besar dan bahwa itulah keuntungan yang agung. (QS. 9:72).
Ya, memang tiada kenikmatan yang lebih besar dari pada mendapatkan diri bahwa Allah ridha kepadanya. Dalam hadis qudsi dari Iniam 'Ali Ibn Husain as disebutkan bahwa Allah Swt berfirman:
Ridha-Ku dan cinta-Ku kepadamu lebih baik dan lebih besar dari apa yang kamu miliki sekarang. (Tafsir al-Mizan, IX, Ayat QS. 9:72)

Sungguh, tidak ada yang lebih nikmat dari pada diseru oleh Allah Swt:
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke sorga-Ku. (QS. 89:27-30).



                             
CERITA TENTANG KEBANGKITAN MANUSIA

                  “Dan ketika Ibrahim berkata ‘Ya Allah perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati?’ Allah berfirman ‘Apakah kamu tidak percaya?’ Ibrahim menjawab ‘Bahkan akan tetapi agar hatiku tetapi agar tenang hatiku..’.” . Dalam Islam yang termasuk dalam perkara akidah adalah mempercayai hari kebangkitan atau mungkin lebih dikenal dengan judgment day alias hari pembalasan. Allah akan membangkitkan tulang-tulang manusia yang berserakan di dalam perut bumi kembali menjadi tubuh yg utuh berselimut daging dan terbungkus kulit untuk mempertanggung jawabkan amal perbuatannya di dunia. I’tiqad atau kepercayaan ini berlandaskan pada beberapa ayat dalam Alquran yg menjelaskan kuasa Allah dalam menghidupkan dan mematikan makhluq-makhluq-Nya.

                  Di antaranya kisah penyembelihan sapi betina dalam surah Al-Baqarah yg nantinya sebagai media untuk membangkitkan seorang Yahudi yg dibunuh tanpa diketahui pelakunya juga kisah seorang musafir yg masuk pada satu desa yg sudah musnah lalu Allah mengembalikan desa itu seperti sedia kala begitu pula kisah Nabi Ibrahim a.s. yang tersebut di atas. Sebagai seorang muslim yang sudah menyatakan percaya kepada enam rukun iman yaitu percaya pada keberadaan Allah malaikat kitab-kitab suci para nabi dan rasul-Nya taqdir dan juga hari akhir maka tentu saja ia harus mempercayai kebangkitan manusia pada hari akhir tersebut.

                  Kalau kemudian kalangan materialis dan atheis mengingkari hari akhir tidak lain dan tidak bukan karena hari itu belum terjadi. Namun ketika Alquran menyebutkan peristiwa-peristiwa pembangkitan yang terjadi sebelum hari akhir maka hati dan pikiran yang jernih akan mengakui kekuasaan Allah dalam membangkitkan yang mati dan juga mengakui keberadaan hari akhir yg diberitakan oleh Rasulullah saw.
                  Tak bisa dipungkiri kalau kemudian umat Islam yang meskipun jumlahnya lebih dari satu milyar ternyata kebanyakan dari mereka terkungkung pada pemikiran ala atheis dan materialis yang menyangka bahwa manusia hanya hidup sekali dan mati sekali. Meskipun dari mulut-mulut mereka mengakui keberadaan hari akhir yg merupakan salah satu rukun iman yang harus diyakini namun sayangnya perilaku mereka mengindikasikan bahwa mereka tidak pernah memikirkan apa yg mestinya hendak mereka siapkan untuk hari kebangkitan mereka kembali.

                  Suatu ketika Rasulullah saw ditanya “Kapan hari kiamat?” Rasulullah saw menjawab :“Apa yang kamu persiapkan untuknya?” Ahli-ahli menjawab bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut hanya pada Sang Pencipta hari kiamat. Rasulullah saw malah mengingatkan si penanya dengan pertanyaan balik tentang apa yg harus disiapkan utk menyambut hari itu.
                  Kembali kepada kisah Nabi Ibrahim as ketika beliau meminta Allah Ta’ala utk menunjukkan kepadanya bagaimana cara Allah menghidupkan makhluk yg sudah mati. Lalu kelanjutan dari ayat di atas adalah perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk mencari empat ekor burung dan mencincangnya menjadi beberapa potong lalu potongan-potongan tubuh burung tadi diletakkan pada beberapa bukit yg berbeda-beda lalu Allah memerintahkan beliau utk memanggil empat burung tadi dan dgn ajaib empat burung tadi terbang dari bukit-bukit itu menuju Nabi Ibrahim dalam keadaan hidup. Begitu mudahnya Allah menghidupkan yg mati lalu apa yg hendak kita siapkan jika kita dihidupkan lagi dari kematian seperti burung-burung itu?????




SEKIAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar